Evaluasi Normatif-Kebijakan PBM 2006 tentang Pendirian Rumah Ibadah: Hak Konstitusional, Implementasi Terdokumentasi, dan Tata Kelola Multikultural

Authors

  • Shella Rachmawaty SMA IT Ar Rahmah Cendekia https://orcid.org/0009-0002-7667-0476
  • Muhammad Akbar Politeknik Media Kreatif Jakarta
  • Saryono Saryono STKIP Kusuma Negara
  • Ria Safitri Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.37640/jcv.v6i2.2982

Keywords:

Kebijakan publik, Rumah ibadah, Kebebasan beragama, Evaluasi kebijakan, Tata kelola multikultural

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengevaluasi Peraturan Bersama Menteri Agama Nomor 9 Tahun 2006 dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2006 sebagai instrumen kebijakan publik yang mengatur pendirian rumah ibadah. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan kualitatif melalui pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan evaluasi kebijakan publik. Analisis didasarkan pada standar konstitusional dan hak asasi manusia, desain regulasi PBM 2006, dokumen resmi, serta bukti implementasi terdokumentasi. Empat kriteria Dunn, yaitu effectiveness, equity, adequacy, dan responsiveness, digunakan sebagai parameter evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBM 2006 memuat persyaratan administratif sekaligus mekanisme korektif melalui fasilitasi pemerintah daerah dan penyelesaian perselisihan. Namun, pencapaian tujuan kebijakan belum konsisten pada berbagai konteks yang terdokumentasi. Persyaratan yang berlaku sama secara formal dapat menimbulkan beban substantif berbeda bagi komunitas minoritas, sedangkan efektivitas mekanisme korektif bergantung pada kapasitas institusi, imparsialitas, dan kualitas tata kelola lokal. Penelitian ini membedakan persoalan desain regulasi dari persoalan implementasi dan merekomendasikan reformasi yang menggabungkan penyempurnaan norma, akuntabilitas institusi, transparansi keputusan, partisipasi inklusif, dan tata kelola berorientasi hak. Kontribusinya terletak pada kerangka evaluasi normatif-kebijakan yang menghubungkan hak konstitusional, implementasi, dan tata kelola.

References

Ananda, A. I., Dedihasriadi, L. O., Sucipta, P. R., Haerani, Y., & Baskhoro, A. E. (2026). Preventing majoritarian veto in house of worship licensing: A human rights-based due process model. Harmoni, 25(1), 1–27. https://doi.org/10.32488/harmoni.v25i1.1075.

Bagir, Z. A., Asfinawati, Suhadi, & Arianingtyas, R. (2020). Limitations to freedom of religion or belief in Indonesia: Norms and practices. Religion & Human Rights, 15(1–2), 39–56. https://doi.org/10.1163/18710328-BJA10003.

Bagir, Z. A., & Sormin, J. (2022). Politik moderasi dan kebebasan beragama: Suatu tinjauan kritis. Elex Media Komputindo.

Debataraja, L. (2022). Penentuan persyaratan dukungan masyarakat di lingkungan pendirian rumah ibadah berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006. Eksekusi: Journal of Law, 4(2), 161–185. https://doi.org/10.24014/je.v4i2.14174.

Dunn, W. N. (2018). Public policy analysis: An integrated approach (6th ed.). Routledge.

Fakhrurraji, A. (2025). Penguatan tata kelola keagamaan yang moderat: Sinkronisasi rumah ibadah, sinergitas antarlembaga, dan ruang publik dalam pembangunan nasional. Jurnal Ilmiah Gema Perencana, 4(1), 599–624. https://doi.org/10.61860/jigp.v4i1.228.

Hefner, R. W. (2020). Islam and covenantal pluralism in Indonesia: A critical juncture analysis. The Review of Faith & International Affairs, 18(2), 1–17. https://doi.org/10.1080/15570274.2020.1753946.

Hermanto, B., Nur, A. I., Krivins, A., Putra, R. K., Subawa, M., Hamdani, F., Wardhani, L. T. A. L., & Khasanah, D. R. A. U. (2026). Reimagining the governance of minority rights in Indonesia: Theoretical propositions and practical pathways toward inclusive constitutionalism. The International Journal of Human Rights. Advance online publication. https://doi.org/10.1080/13642987.2026.2705848.

Human Rights Committee. (1993). CCPR General Comment No. 22: Article 18 (Freedom of thought, conscience or religion) (CCPR/C/21/Rev.1/Add.4). United Nations.

Intan, B. F. (2023). Religious pluralism, public religion, and principled pluralism in Indonesia. Transformation, 40(4), 334–349. https://doi.org/10.1177/02653788231206020.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. (2025). Evaluasi implementasi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 dan 8 Tahun 2006 dalam pendirian rumah ibadat. Komnas HAM Republik Indonesia.

Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Edisi revisi, Cet. ke-13). Kencana.

Menteri Agama Republik Indonesia, & Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia. (2006). Peraturan Bersama Menteri Agama Nomor 9 Tahun 2006 dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat.

Modood, T., & Sealy, T. (2024). The new governance of religious diversity. Polity.

Napitupulu, Y. C., & Halawa, M. (2026). Legal uncertainty and administrative barriers for minority worship houses in Indonesia. Academia Open, 11(1). https://doi.org/10.21070/acopen.11.2026.14137.

Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Republik Indonesia. (2005). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik).

Ruslan, I., Mawardi, M., & Anshori, A. A. (2022). Deconstruction of the policy for the establishment of houses of worship in Indonesia. Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya, 6(2), 261–270. https://doi.org/10.15575/rjsalb.v6i2.21396.

Safa’at, M. A. (2022). The roles of the Indonesian Constitutional Court in determining state-religion relations. Constitutional Review, 8(1), 113–150. https://doi.org/10.31078/consrev815.

Saputra, Z. H., & Atsari, Z. H. (2026). Rekonseptualisasi kewenangan FKUB dalam pendirian rumah ibadah: Perspektif konstitusionalisme dan minority rights theory. Journal of Law and Administrative Science, 4(1), 113–132. https://doi.org/10.33478/jlas.v4i1.57.

Saryono, Sunarso, & Nasiwan. (2026). Teori transformasi etika politik: Rekonstruksi pemikiran Soekarno dalam perspektif Pendidikan Kewarganegaraan. Widina Media Utama.

Soekanto, S., & Mamudji, S. (2019). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat (Ed. 1, Cet. ke-19). Rajawali Pers.

Suhadi, S., Muhtada, D., & Amal, A. G. S. (2024). Legal reconstruction of the establishment of places of worship in Indonesia: A legal-political analysis within the framework of land use and spatial planning law. Journal of Indonesian Legal Studies, 9(2), 1181–1208. https://doi.org/10.15294/jils.v9i2.19162.

Suryawati, N., & Syaputri, M. D. (2022). Intoleransi dalam pembangunan rumah ibadah berdasarkan hak konstitusional warga negara. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 4(3), 433–446. https://doi.org/10.14710/jphi.v4i3.433-446.

Syuhudi, M. I., & Nensia. (2021). Islam-Kristen di “Kota Kalong”: Best practice pembangunan rumah ibadat berbasis kearifan lokal. Harmoni, 20(2), 173–187. https://doi.org/10.32488/harmoni.v20i2.511.

Tajmila, T., Syahwan, A., Aditya, M. D. S., Rafi, P. A., Rahman, M., & Muzakir, Y. (2025). Peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam perizinan rumah ibadah berdasarkan hak konstitusional kebebasan beragama. Wathan: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(2), 260–279. https://doi.org/10.71153/wathan.v2i2.263.

United Nations. (1966). International Covenant on Civil and Political Rights. United Nations.

Downloads

Published

2026-10-12