Penegakan Hukum atas Pelanggaran HAM: Antara Keadilan dan Kepastian Hukum
DOI:
https://doi.org/10.37640/jcv.v6i2.2891Keywords:
Hak asasi manusia, Keadilan, Kepastian hukum, Radbruch, Friedman, Penegakan hukumAbstract
Penegakan hukum terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menghadapi persoalan tidak hanya pada ketersediaan perangkat hukum, tetapi juga pada kemampuan sistem hukum mewujudkan keadilan dan kepastian hukum secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan keadilan dan kepastian hukum dalam penegakan HAM serta mengonstruksi model integratif berdasarkan pemikiran Gustav Radbruch dan teori sistem hukum Lawrence M. Friedman. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Bahan penelitian meliputi bahan hukum primer, dokumen resmi, dan literatur relevan yang dianalisis secara kualitatif dengan teknik deskriptif-analitis dan interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya jarak antara kapasitas normatif sistem hukum dan realisasi akuntabilitas serta pemulihan korban. Perspektif Radbruch menempatkan keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan atau kebertujuan sebagai parameter evaluatif, dengan Radbruch Formula sebagai batas evaluatif dalam kondisi ketidakadilan ekstrem. Sementara itu, Friedman menjelaskan kondisi realisasi nilai tersebut melalui keterkaitan substansi, struktur, dan budaya hukum. Sintesis kedua kerangka menghasilkan Model Integratif Penegakan Hukum HAM Berbasis Radbruch–Friedman yang menghubungkan evaluasi nilai, diagnosis sistem, dan orientasi operasional berupa akuntabilitas pelaku, pemulihan korban, due process of law, serta jaminan ketidakberulangan. Model ini menawarkan kerangka konseptual bagi penegakan HAM yang adil, berkepastian hukum, akuntabel, dan berorientasi pada korban.
References
Arifin, R., Wulandari, C., Muliadi, M., Utari, I. S., & Munandar, T. I. (2023). A discourse of justice and legal certainty in stolen assets recovery in Indonesia: Analysis of Radbruch’s formula and Friedman’s theory. Volksgeist: Jurnal Ilmu Hukum dan Konstitusi, 6(2), 159–181. https://doi.org/10.24090/volksgeist.v6i2.9596
Benuf, K., & Azhar, M. (2020). Metodologi penelitian hukum sebagai instrumen mengurai permasalahan hukum kontemporer. Gema Keadilan, 7(1), 20–33. https://doi.org/10.14710/gk.2020.7504
Friedman, L. M. (1975). The legal system: A social science perspective. Russell Sage Foundation.
Hardiyanto, L., & Saryono. (2023). Penguatan lembaga perlindungan HAM untuk menciptakan keadilan dan pembangunan masyarakat Papua. Jurnal Citizenship Virtues, 3(1), 454–461. https://doi.org/10.37640/jcv.v3i1.1732
Human Rights Committee. (2024). Concluding observations on the second periodic report of Indonesia (CCPR/C/IDN/CO/2). United Nations.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. (2024). Catatan akhir tahun 2024: Hak asasi manusia.
Kurniati, P., Nursyamsiah, S., Barokah, A., & Saryono. (2025). Peran strategis media massa dalam mengungkap kasus pungli: Transparansi, akuntabilitas, dan pendidikan antikorupsi dalam tata kelola pemerintahan. Jurnal Citizenship Virtues, 5(1), 62–69. https://doi.org/10.37640/jcv.v5i1.2289
Manullang, E. F. M. (2022). Misinterpretasi ide Gustav Radbruch mengenai doktrin filosofis tentang validitas dalam pembentukan undang-undang. Undang: Jurnal Hukum, 5(2), 453–480. https://doi.org/10.22437/ujh.5.2.453-480
Marzuki, S., & Ali, M. (2023). The settlement of past human rights violations in Indonesia. Cogent Social Sciences, 9(1), Article 2240643. https://doi.org/10.1080/23311886.2023.2240643
Negara, T. A. S. (2023). Normative legal research in Indonesia: Its origins and approaches. Audito Comparative Law Journal, 4(1), 1–9. https://doi.org/10.22219/aclj.v4i1.24855
Orentlicher, D. (2005). Updated set of principles for the protection and promotion of human rights through action to combat impunity (E/CN.4/2005/102/Add.1). United Nations Commission on Human Rights.
Pastor Muñoz, N. (2023). Why international criminal law can and should be conceived with supra-positive law: The non-positivistic nature of international criminal legality. Criminal Law and Philosophy, 17, 381–406. https://doi.org/10.1007/s11572-022-09628-6
Paulson, S. L. (2006). On the background and significance of Gustav Radbruch’s post-war papers. Oxford Journal of Legal Studies, 26(1), 17–40. https://doi.org/10.1093/ojls/gqi043
Radbruch, G. (2006a). Statutory lawlessness and supra-statutory law (1946) (B. L. Paulson & S. L. Paulson, Trans.). Oxford Journal of Legal Studies, 26(1), 1–11. https://doi.org/10.1093/ojls/gqi041
Radbruch, G. (2006b). Five minutes of legal philosophy (1945) (B. L. Paulson & S. L. Paulson, Trans.). Oxford Journal of Legal Studies, 26(1), 13–15. https://doi.org/10.1093/ojls/gqi042
Sajó, A. (2024). Militant rule of law and not-so-bad law. Hague Journal on the Rule of Law, 16, 525–549. https://doi.org/10.1007/s40803-024-00221-8
Saryono, & Iriansyah, H. S. (2025). Negara, kedaulatan, dan perlindungan rakyat: Analisis kelemahan penanganan tindak pidana perdagangan orang di Indonesia dalam perspektif ilmu negara. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik, 3(1), 78–86. https://doi.org/10.61476/gw383e69
Saryono, Sunarso, & Nasiwan. (2026). Political ethics education and student political culture: Legal awareness as a predictor of democratic participation among university students. Ainara Journal (Jurnal Penelitian dan PKM Bidang Ilmu Pendidikan), 7(1), 154–164. https://doi.org/10.54371/ainj.v7i1.1309
Sodik, R. B. (2025). The UN Human Rights Committee in promoting accountability for gross human rights violations in Indonesia. Human Rights in the Global South, 4(1). https://doi.org/10.56784/hrgs.v4i1.132
United Nations. (1966). International Covenant on Civil and Political Rights.
United Nations General Assembly. (2005). Basic principles and guidelines on the right to a remedy and reparation for victims of gross violations of international human rights law and serious violations of international humanitarian law (A/RES/60/147).
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Citizenship Virtues

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Author(s) agree that this article remains permanently open access under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License












